AZROHAL HASAN

HISTORY NEVER DIES

Musik & Agama

21 March 2016 - dalam Umum Oleh azro_el-fib11

Konser Superman Is Dead (SID) ahad dua hari yang lalu menjadi bukti representatif Musik aliran Rock yang dibawakan group Band ini bukan hanya bernilai hiburan semata, ratusan ribu remaja & pemuda yang disebut Outsider datang dari berbagai kota di Jawa Timur dengan menumpang berbagai kendaraan umum, truk, pick up, bahkan truk tronton. Jika dalam ibadah haji semua menggunakan baju putih maka Outsider Dengan baju hitam seragam bertuliskan simbol-simbol SID sebagai identitas diri, Mereka mempunyai motif yang kuat untuk datang dalam hajatan musik Band Rock dari Bali tersebut. Outsiders serasa wajib datang apabila masih bisa menjangkau Konser walaupun tidak ada bekal uang, seolah berpasrah dengan keadaan dan tekat layaknya keimanan yang tidak dapat digoyahkan dengan bentuk rasional apapun, apapun penghalang, baik orang tua, teman, & tanpa uang transport mereka tetap bulat tekat berangkat, semacam ada hubungan transenden antara outsider dengan SID, seperti ajaran agama untuk mengharuskan seorang hamba datang ke tempat ibadah meskipun harus merangkak dia akan datang. Dengan adanya propaganda dari SID yang telah mengeneralisasikan outsider adalah salah satu golongan sub kultur yang tidak dapat diterima dalam nilai budaya masyarakat setempat. Membuat kelas sub kultur ini memarginalkan dirinya untuk berbekal sesederhana mungkin untuk berangkat menonton konser ini salah satu bentuk ajaran hidup sederhana.

 

Dalam konser SID dapat disejajarkan layaknya Pastur, Kyai, atau Pendeta dalam konsernya, mengangkat tema musik hasil analisis realitas dan kejenuhan remaja & pemuda membuat musiknya banyak diterima oleh mereka yang tidak tersejahterakan dalam kehidupan, mengangkat beberapa kasus seperti: reklamasi teluk benoa, air bisa menangis kalo disia-siakan, Outsider harus memberikan rasa aman kepada Lady Rose (Fans Perempuan SID) setiap Konser. Nilai-nilai hubungan horisontal antar menghargai sesama manusia & alam selalau ditanamkan setiap jeda musik yang dimainkan, dengan ciri khas Modern Penyanyi yang bertato & beranting SID seolah menolak bahwa visual fisik buruk belum tentu tidak bisa berbuat baik terhadap sesama, mematahkan pakaian-pakaian rapi para pemuka agama yang ajarannya hari ini banyak tidak mendapat hati dikalangan remaja & pemuda, hegemoni yang dilakukan SID ini telah terlampau jauh sampai memunculkan hubungan patron klien dengan Outsider, terlihat ketika konser semua menyanyi bersama dan apabila ada beberapa lagu slow rock yang dimainkan semua akan duduk dan menyalakan telepon genggam atau korek api untuk dilambai-lambaikan, seperti pengembala menggembalakan domba gembalanya.

 

Miris rasanya ketika di era ini tontonan menjadi tuntunan dan tuntunan hanya menjadi tontonan, pendekatan kultural SID seharusnya bisa menjadi contoh efektivitas penyampaian pesan atau ajaran, agama yang seharusnya tidak statis tapi harus dinamis mampu menyesuaikan konteks zaman. Para Agamawan harus mampu berfikir bersama menjadikan agama lebih universal dengan pendekatan budaya yang dilakukan sesuai objek dan sasaran, bukan agama yang kaku hanya bisa mengeneralisasikan umatnya. Manusia bukan makhluk tuhan yang seragam, manusia mempunyai intuisi & rasional yang berbeda.



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Sejarah yang Tak Terulang

    Masa Lalu gak akan muncul kembali namun kita setidaknya mampu belajar dari peristiwa masa lalu

IDEALISME SEMU

    Bicara tentang Idealisme, mungkin kata ini tak asing ditelinga Mahasiswa, apalagi Mahasiswa Aktivis yang menjunjung tinggi kata ini, berat rasanya buat siapapun Politikus, Negarawan, Agamawan,Sejarahwan dll, Bahkan Agamawan yang menjadi benteng keimanan, gejolak batin sontak timbul ketika kata itu tergadaikan materi-materi yang menggoda, Marx pun lebih jujur ketika menanggapi soal materi, Apa mungkin kejujuran Marx telah jadi realitas ditengah gempuran sistem yang semakin mencekik, Ah, Mungkin Kata itu hanya teks terbangkai yang selamanya akan menjadi Mitos para Pecandu Jabatan & Materi.

ASAP PEMBUNUH

    Berharap hujan datang dan memberi secercah harapan. Hujan dengarlah rintihan dan pekikan bayi, anak-anak, ibu, bapak, nenek dan kakek. Tak mampu berujar untuk menikmati nafas yang sebelumnya mereka hirup. Mata tak dapat melihat seperti yang sebelumnya mereka lihat. Hidup dalam miniatur neraka. Menyiksa, merusak tatanan kehidupan. Sudah lelah mereka merontah saling tuding tak ada jawaban datang dari bapak berkopiah, ber jas dan berdasi mewah. Seolah keadilan hanya sebuah fatamorgana bagi mereka. Di Hari Sumpah Pemuda ini para Motor Bangsa harus bertindak, tak hanya melihat, berujar dan saling menyudutkan. Semoga bangsa ini mampu bertahan dalam buaian pengkhianatan. Selamat Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2015 #SaveRiau #SaveBorneo #SaveSumatra #SaveSingapore #SaveMalaysia

Pengunjung

    20.750